Dari ketiga capres, tampaknya mereka sepakat bahwa sektor pendidikan merupakan masalah teramat penting bagi kemajuan bangsa dan negara. Namun, hingga kini masalah pendidikan tak pernah sepi dari berbagai kritik. Hal ini disebabkan masih terus terjadinya try and error dalam system pendidikan kita, dan lagi-lagi korbannya adalah siswa dan orangtua murid.
Mestinya, kalau kita berbicara pendidikan, harus dimulai dari "hulunya". Hulu pendidikan tak bisa dilepaskan dari "peran guru". Secara teoretis, jika staf pengajarnya (guru) baik kemudian murid, kurikulum dan fasilitas (sarana dan prasarana) semua baik, maka niscaya outputnya akan baik juga. Tetapi, jika persyaratan ideal itu tidak mungkin kita penuhi semuanya, maka satu hal yang tidak boleh tidak (conditio sine qua non) harus dipenuhi adalah soal kualitas guru mutlak harus baik.
Guru yang baik tentu berasal dari training ground (lembaga pendidikan guru) yang berkualitas. Dan lembaga pendidikan penghasil guru dengan kualitas excellent (sangat baik) tentu hanya mau menerima calon mahasiswa/calon guru yang sangat baik pula.
Yang menjadi pertanyaan, apakah sejauh ini negara kita telah memiliki lembaga pendidikan penghasil guru yang benar-benar berkualitas?Berapa banyak dari calon mahasiswa/calon guru dengan standar IQ superior yang interest menjadi guru? Apakah guru merupakan pilihan profesi yang cukup memberikan jaminan kesejahteraan dan kehormatan?
Hal-hal sperti itulah yang menurut pendapat saya justru harus dibongkar terlebih dulu, sebelum kita berbicara masalah kenaikan anggaran. Sebab, kenaikan anggaran yang tidak diimbangi dengan mutu staf pengajar hasilnya akan kurang efektif.
Tolok ukur pendidikan yang berhasil, apabila outputnya mampu menjadi agent of chance (agen perubahan) sehingga secara bertahap negara Indonesia akan menjadi negara modern dengan PDB yang jauh lebih tinggi mengejar negara-negara maju lainnya.
PDB yang tinggi jelas menunjukkan adanya produktifitas, kreatifitas, inovasi, eksplorasi, kompetisi, kerja keras, jujur dan disiplin. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat terwujud tanpa kehadirian/peran guru yang baik? Saya kira itu persoalannya.
Next akan saya coba untuk membahas, bagaimana guru yang baik itu.
Suprayitnov@gmail.com
Mestinya, kalau kita berbicara pendidikan, harus dimulai dari "hulunya". Hulu pendidikan tak bisa dilepaskan dari "peran guru". Secara teoretis, jika staf pengajarnya (guru) baik kemudian murid, kurikulum dan fasilitas (sarana dan prasarana) semua baik, maka niscaya outputnya akan baik juga. Tetapi, jika persyaratan ideal itu tidak mungkin kita penuhi semuanya, maka satu hal yang tidak boleh tidak (conditio sine qua non) harus dipenuhi adalah soal kualitas guru mutlak harus baik.
Guru yang baik tentu berasal dari training ground (lembaga pendidikan guru) yang berkualitas. Dan lembaga pendidikan penghasil guru dengan kualitas excellent (sangat baik) tentu hanya mau menerima calon mahasiswa/calon guru yang sangat baik pula.
Yang menjadi pertanyaan, apakah sejauh ini negara kita telah memiliki lembaga pendidikan penghasil guru yang benar-benar berkualitas?Berapa banyak dari calon mahasiswa/calon guru dengan standar IQ superior yang interest menjadi guru? Apakah guru merupakan pilihan profesi yang cukup memberikan jaminan kesejahteraan dan kehormatan?
Hal-hal sperti itulah yang menurut pendapat saya justru harus dibongkar terlebih dulu, sebelum kita berbicara masalah kenaikan anggaran. Sebab, kenaikan anggaran yang tidak diimbangi dengan mutu staf pengajar hasilnya akan kurang efektif.
Tolok ukur pendidikan yang berhasil, apabila outputnya mampu menjadi agent of chance (agen perubahan) sehingga secara bertahap negara Indonesia akan menjadi negara modern dengan PDB yang jauh lebih tinggi mengejar negara-negara maju lainnya.
PDB yang tinggi jelas menunjukkan adanya produktifitas, kreatifitas, inovasi, eksplorasi, kompetisi, kerja keras, jujur dan disiplin. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat terwujud tanpa kehadirian/peran guru yang baik? Saya kira itu persoalannya.
Next akan saya coba untuk membahas, bagaimana guru yang baik itu.
Suprayitnov@gmail.com